Titik Awal Persebaran Raja Raja di KALBAR

Situs yang berada di atas Gunung Lalang saat ini, terdapat beberapa makam. Salah satunya Panembahan Dibarokh (Sultan Musthafa Izzudien). Beliau meninggal tahun 1590 M.

Silsilah Raja raja Tanjungpura, Matan dan Simpang

Daftar Raja Raja Tanjungpura - Sukadana – Matan – Indralaya - Simpang Matan – Matan Kayong – Mulia Kerta (Matan Tanjung Pura) dan Sukadana New Brussel.

Nisan dan Bata Merah Yang Punya Kekuatan Magis !

Suatu saat salah seorang sahabat dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) sedang belanja membeli sesuatu disalah satu toko Sukadana. Saat itu tidak sengaja mendengar pembicaraan serius dari beberapa orang dipojok toko, sambil menonton video diyutube, tentang salah satu makam dengan susunan bata merah yang sudah tidak utuh lagi..

Siapkah Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Kayong Utara ?

Menjadi Tim Cagar Budaya adalah salah satu cita cita dan tugas mulia bagi kami. Sebelumnya kami lahir dari berbagai latar belakang, namun memiliki kesenangan yang sama yakni bidang sejarah dan budaya. Dari kesamaan itu kami banyak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sejarah dan budaya dan sebagain terekam dari berbagai karya yang juga ada di blog kerjaansimpang, akun yutube Kayong Tv, mitra swasta maupun pemerintah.

Asal Usul Suku Melayu Kayong

Kabupaten ketapang dan kayong utara memiliki jejak peradaban yang tertua di kalimantan barat yakni Kerajaan Tanjungpura dan beberapa kali mengalami perpindahan ibu kota dari mulai Negeri Baru Ketapang , Sukadana ,Matan, Indralaya, Tanah Merah, Simpang dan Muliakerta..

Nisan Tipe Aceh Abad 17 di Matan dan Sejarah Ratu Soraya

  


Temuan makam bertipe Aceh tahun 2014 tersebut secara tidak sengaja. Ditemukan saat perusahaan tambang akan membuka jalan baru. Tahun 2019, peneliti dari BPCB Kalimantan Timur datang kesini. Hasil identifikasi para peneliti tersebut, bahwa makam dengan nisan tipe Aceh tersebut adalah  abad ke-17.

Makam tersebut  masih satu bukit dengan komplek makam Sayyid Kubra dan raja-raja Matan. Makam tipe Aceh ini terletak di sebelah barat laut. Sedangkan makam Sayyid Kubra di bagian timur.  Kindisi nisan type aceh ini sudah tidak utuh lagi bagian kepala ada yang partah dan bagian kaki juga sudah terbelah.

Di makam tipe Aceh tersebut, juga terdapat satu makam didepannya, dengan bahan batu andesit berbentuk pipih. Hingga saat ini, warga setempat tidak mengetahui siapa yang bersemayam di makam tersebut. Bahkan banyak beredar rumor bahwa makam tersebut adalah pemakaman hindu, hal ini didasarkan pada motif dan ukiran yang asing bagi masayarakat sekitar. Namun ketika di cek fakta sesngguhnya  nisan dengan corak demikian dikasifikasikan sebagai tipe aceh.

Dugaan sementara makam di bukit tersebut berhubungan dengan seorang tokoh bernama Ratu Soraya atau ratu surya kesuma. Ratu Soraya Merupakan istri dari Sultan Tengah, yang berasal dari Kesultanan Brunei. Ratu Soraya adalah bibi Sultan Zainuddin, raja Matan. Sang Ratu, merupakan anak Panembahan Giri Kesuma, raja Tanjungpura era Sukadana. 



 Jejak Makam Ratu Soraya, Istri Sultan Tengah Dari Brunei Di Sukadana

Oleh: Tim riset Lembaga Simpang Mandiri  di bawah mandat Kerajaan Simpang matan Tahun 2020

 

A.     PIJAKAN DASAR

            Misi pencarian makam Putri Surya Kesuma atau Ratu Soraya adalah bagian yang penting dari sejarah kesultanan Brunei, sebab Ratu Soraya adalah istri dari Sultan Tengah bergelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah yang berasal dari kesultanan Brunei yang kelak dikemudian hari juga menurunkan Raja raja sambas hingga hari ini.

            Bermula dari penemuan Makam Sultan Tengah di Gunung Sentubong Serawak Malaysia pada tahun 1993. Penemuan itupun ditindak lanjuti oleh pusat Sejarah Kesultanan Brunei dengan serius, sehingga pada saat ini makam tersebut dibangun dengan begitu megahnya.

            Karena makam Sultan Tengah telah ditemukan, maka misi dari pusat sejarah Kesultnanan Brunei adalah mancari makam isterinya yakni Ratu Soraya atau Putri Surya Kesuma yang merupakan putri dari Raja Tanjung Pura era Sukadana dari Pasangan Giri Kesuma atau Sultan Muhammad Tajudin dengan Putri Bunku atau Ratu Mas Jaintan.

            Ratu Soraya adalah bungsu dari 2 bersaudara,  saudaranya yang  paling tua adalah Giri Mustika yang menjadi penerus ayahandanya dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin, dimana gelar ini dikemduian hari diberikan pada cucu keponakannya dari pasangan Ratu Soraya dengan sultan tengah yakni Raden Sulaiman yang menjadi Raja Sambas pertama dengan corak Islam.

B.      KEDATANGAN ROMBONGAN BRUNEI 2005

            Pencarian makam Ratu Soraya ini dilakukan dengan serius oleh Pusat Sejarah Kesultanan Brunei  Pada tahun 2005 dan tahun 2006.  rombongan dari Brunei tersebut melakukan lawatan ke beberapa kerajaan yang ada di Kalimantan termasuk  Sukadana, guna mencari keberadaan makam Ratu Soraya serta mentelaah lebih jauh hubung kait silsilah kekeluargaan dengan kerajaan lain.

            Pada masa kedatangan rombongan dari Brunei tersebut dituturkan oleh beberapa saksi hidup yang mendampingi. Salah satunya yakni Tengku Mochtar ia merupakan perwakilan tokoh masyarakat asal Sukadana.

            Saat kami temui di rumahnya pada 1 Februari 2019, Tengku Mochtar yang sudah berusia 86 tahun,  atau  akrab disapa Ayah Tar  mengisahkan apabila rombongan Brunei pada masa itu sempat beberapa hari menginap di Sukadana, untuk melakukan penelitian hubungan kerajaan Sukadana dan Brunei dimasa itu. dengan membawa peralatan lengkap serta peniliti bahkan cenayang (paranormal) untuk mencari lokasi makam Ratu Soraya dimasa itu.

            Atas informasi Pak Unggal Nan salah seorang masyarakat Desa Harapan Mulia mengenai makam keramat di atas Gunung Lalang. Maka  rombongan kesultanan Brunei tersebut pergi ke makam  Gunung Lalang, lalu kemudian menuju makam Panembahan Ayer Mala di Tambak Rawang serta ziarah  kemakam bersejarah lainnya di sukadana.  

            Setelah usai dari lawatan tahun 2006 tersebut, rombongan dari Brunei itu tidak pernah lagi datang ke Sukadana, namun mereka pernah berpesan pada masyarakat, salah satunya pada Pak Imam Norman yang pada masa itu sebagai penyambut tamu dengan membacakan syair gulung. pesan yang masih diingat Pak Imam adalah apabila suatu saat menemukan makam tua yang dicurigai sebagai makam Ratu Soraya untuk dapat dikonformasi kepada pihak rombongan Brunei tersebut.

            Sedangkan menurut keterangan salah seorang warga  di Desa Harapan Mulia, pada masa itu sebagai kepala desanya adalah Almarhum Awi. Sebagaimana dituturkan kembali oleh anaknya bernama Sandi Sugiarno bahwa rombongan Brunei pada masa itu; setelah lawatan kebeberapa makam, termasuk Gunung Lalang dan Ayer Mala, dimalam harinya saat mereka berunding dikediaman rumah Camat Sukadana pada masa itu yaitu Amrullah. Hasil perundingan sementara  adalah bahwa makam makam yang mereka datangi pada saat itu bukanlah makam yang dicari.  

            Lalu yang menjadi misteri dan pertanyaan jika memang yang didatangi oleh rombongan  Brunei bukanlah makam Ratu Soraya, maka dimanakah letak makam itu sebenarnya ?.

            Dalam hal ini kami mengemukakan dua teori, ataupun dugaan mengenai keberadaan makam Ratu Soraya. Yang pertama dilokasi Tambak Rawang Sukadana, yang ke dua di Desa Matan Jaya Kecamatan Simpang Hilir. Berikut kajian dan ulasannya, namun tentunya hal ini masih harus perlu di uji kembali dengan penelitian yang serius dengan melibatkan para ahli.

C.      SEJARAH KEDATANGAN SULTAN TENGAH DAN PERNIKAHAN DI SUKADANA

            Saat itu Sultan tengah mengarungi lautan luas dengan cuaca yang buruk sehingga terdamparlah ia di Tanjung Pura Sukadana pada sekitar tahun 1631 Masehi. Giri Mustika dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin pada masa itu menjabat sebagai rajanya.

            Dimasa Giri Mustika ini kesultanan Matan juga sudah dimulai dengan persiapan perpindahan ibu kota dari Mulia ke Sungai Matan, yang kelak tahta Matan akan diberikan pada cucunya yakni Gusti Zakar negara bergelar Sultan Muahammad Zainuddin.

            Setelah beberapa saat lamanya Sultan Tengah di negeri Sukadana, maka menikahlah ia dengan Putri Surya Kesuma atau Ratu Soraya yakni adik dari Giri Mustika bergelar sultan Muhammad Syaifiuddin. Karena ayahnya sudah mangkat, maka Giri Mustika yang bertindak sebagai wali menikahkan raja tengah dengan Putri Surya Kesuma.

            Hasil dari buah pernikahan tersebut lahirlah 5 orang anak yakni  Raden Sulaiman yang lahir di  Sukadana tepatnya daerah Mulia, Kemudian  Badaruddin, Abdul Wahab,  Rasmi Putri dan Ratna Dewi.

            Setelah sekitar 7 tahun menetap di Kesultanan Sukadana Sultan Tengah lalu berpindah ke Sungai Sambas  Pada tahun 1638. Maka berangkatlah rombongan Sultan Tengah beserta keluarga dan orang-orangnya dengan menggunakan 40 perahu yang lengkap dengan senjata dari Kesultanan Sukadana menuju Panembahan Sambas di Sungai Sambas.

            Setelah beberapa lama sultan tengah diam disana, lalu menikahlah anaknya yang sudah dewasa yaitu Raden Sulaiman dengan Mas Ayu bungsu yakni Anak dari Ratu Sepudak dan menjadi menteri besar Panembahan Sambas dimasa sebelum Islam, dan kelak  Raden Sulaiman menjadi pendiri Kesultanan Sambas Islam pertama yang menurunkan Raja rajanya hingga saat ini. 

             Selanjutnya  Sultan Tengah  memutuskan sudah saatnya untuk kembali ke negerinya yang telah lama di tinggalkan. Maka kemudian berangkatlah Sultan Tengah beserta istrinya yaitu Putri Surya Kesuma dan keempat  adik dari Raden Sulaiman  pada tahun 1652 Masehi.

            Namun dalam perjalanan di suatu tempat yang bernama Batu Buaya, secara tiba-tiba Sultan Tengah ditikam dari belakang oleh pengawalnya sendri, maka wafatlah Sultan tengah dan dimakamkan dilereng Gunung Sentubong. Adapun istrinya yakni  Ratu Soraya  memutuskan untuk kembali ke Kesultanan Tanjung Pura Sukadana yaitu tempat dimana ia berasal bersama dengan keempat anaknya. Sampai di sini cukuplah perjalan sejarah untuk dapat mengkaji dimanakah makam ratu Soraya.

D.     DUGAAN MAKAM RATU SORAYA DI SUKADANA

            Berdasarkan dari kronik perjalanan sejarah tersebut  dugaan yang pertama bahwa Ratu Soraya dimakamkan di Sukadana tepatnya di Desa Gunung Sembilan. Memang ada satu Nisan yang di curigai sebagai  makam ratu Soraya, bahkan sudah ada plang nama didepannya.

            Menurut salah seorang tokoh  yang ada di Tambak Rawang yakni tok Imam Norman, bahwa dahulunya makam tersebut sering disebut sebagai makam Mak Timbang. Namun setelah rombongan Brunei pulang dari meneliti dua makam yang ada di Gunung Lalang dan Panembahan Ayer Mala, maka makam tersebut lalu dicurigai masyarakat sebagai makam Ratu Soraya yang dicari oleh rombongan dari Brunei yang sebelumnya telah gagal mencarinya.

       Namun sayangnya hingga saat ini masih belum ada penelitian khusus mengenai makam yang di duga adalah makam Ratu Soraya tersebut. Dugaan kuat memang mengarah ke makam Ratu Soraya sebab alasanya adalah, orang yang dimakamkan di atas bukit bukanlah orang biasa, dan jika dilihat dari batu nisan padat tampaknya juga bukan orang sembarangan yang dimakamkan pada masa  itu.

            Makam Soraya ini ada dilereng bukit tepi laut Teluk Sukadana, dari makam yang diduga adalah pusara Ratu Soraya ini terlihat Masjid Usman Alkhoir serta landscape yang indah dari atas. Menurut penuturan masyarakat pada masa lalu di nisan batu ini pernah ada hurf araf jawi bertuliskan nama yang sudah kabur.

            Jika memang Ratu Soraya dimakamkan disini masih masuk akal sebab abangnya yang masih memerintah saat itu  yakni Sultan Muhammad Syafiuddin atau Giri Mustika yang meninggal pada tahun 1677 masehi dan dimakamkan di bukit laut belakang mulia saat ini.

            Namun memang ada catatan penitng untuk dilakukan kajian, bahwa apabila Ratu Soraya dimakamkan di Sukadana mengapa tidak dimakamkan di dekat abangnya yang pada saat itu memerintah negeri sukadana dengan pusat kerajaannya yang  ada di Mulia. Kemudian yang berikutnya pada era tahun 1652 yakni setelah kemangkatan suaminya, Pusat kota raja berpindah ke Sungai Matan. Namun demikian mengenai dugaan makam ini perlu diuji kembali kebenarnnya.

Ukuran  makam diduga Ratu Soraya ini panjang 1,90 meter dan lebar 80 cm. Yaitu merupakan ruang yang disisakan sebagai tempat nisan, tidak di semen atau di pasang keramik. Lebar cungkup 6 x 6 meter dengan tinggi 2,93 meter. Nisan berbahan batu andesit, tipe Singapura abad ke-19. Tinggi nisan 65 cm dan lebar 20 cm.

Dari sisi arkheologis pun, keberadaan makam Ratu Soraya di Tambak Rawang, tepatnya di bukit yang menghadap ke Teluk Sukadana masih diragukan. Sebab, berdasarkan dari hasil pengamatan dan perabaan, batu nisan yang ada di makam tersebut, merupakan bertipe nisan tipe Singapura. Tipe ini tren dipakai pada abad 19 Masehi.

Sedangkan dari sisi kesejarahan, Ratu Soraya hidup pada abad ke -17, di masa raja Panembahan Sorgi (Sultan Muhammad Tajudin), yang merupakan ayahandanya. Kemudian dilanjutkan oleh Ratu Mas Jaintan dan Giri Mustika (Sultan Muhammad Tsafiuddin), yang meninggal tahun 1677 M.

Menurut Sejarawan setempat, yaitu Imam Norman, bahwa dahulunya makam tersebut sering disebut sebagai makam Mak Timbang. Setelah rombongan Brunei pulang, penyebutan warga berubah jadi makam Ratu Soraya. Padahal penelitian robongan Brunei di makam Gunung Lalang dan Panembahan Ayer Mala Sukadana, tidak menyimpulkan Ratu Soraya. Tetapi dicurigai beberapa warga sebagai makam Ratu Soraya.


Hingga saat ini, belum ada argumentasi yang kuat mengenai makam yang diduga  Ratu Soraya tersebyt. Jika Dugaan kuatnya adalah makam Ratu Soraya, paling tidak ada sumber primer yang bisa memberikan alasan. Hingga saat ini, satu-satunya yang bisa menjadi penanda, yaitu tradisi memakamkan seseorang di atas bukit, pada masa itu bukanlah orang biasa. Namun jika melihat dari batu nisan padat, yang eranya sudah berselisih, diragukan jika nisan itu sudah ada sejak abad ke- 17.    Berdasarakan identifikasi Haji Syarifudin bersama masyarakat Tambak Rawang tahun 2008, makam disebut Ratu Soraya saat ini, saat ditemukan pertama kali belum memiliki deskripsi. Dalam keterangan foto dokumentasi pribadi Syarifudin saat itu tertulis, “makam tanpa nama di Gunung Bukit Laut Tambak Rawang”.

 

E.      DUGAAN MAKAM RATU SORAYA DI MATAN

            Dugaan yang ke dua Ratu Soraya di makamkan di Matan. Dugaan ini memiliki beberapa argumen penting diantaranya adalah; setelah  suami Ratu soraya yakni Sultan Tengah wafat  pada tahun 1657 di Sentubong (Serawak), maka Ratu Soraya kembali ke Sukadana. Pada era tahun tersebut yang memerintah adalah Giri Mustika / Sultan Muhammad Syafiuddien yang merupakan abangnya sendiri.

Pada Giri Mustika memerintah, pemerintahan sudah berpindah ke Sungai Mulia dan kota rajanya berpusat di Sungai Matan yang selanjutnya disebut Kesultanan Matan. Dugaanya bahwa Ratu Soraya   juga ikut berpindah dan bermukim di Matan dan wafat di sana, Sedangkan abangnya kemduian meninggal di tahun 1677 M, dan di makamkan di belakng Mulia di atas bukit laut. Georg Muller

            Tentang dugaan makam Ratu Soraya di Matan, hal ini diperkuat dengan adanya temuan makam brtype aceh pada tahun 2014. Makam tersebut menurut para ahli dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur, yang sudah meneteliti  pada tahun 2018 adalah keluaran abad ke 17 (jurnal LPA Pemukiman Tanjujungpura 2018 Halaman 32 ). Makam tersebut berada di atas bukit kecil di Matan, tidak jau dari makam Sayyid Kubro dan Raja raja Matan yakni Sultan Mangkurat dan Meruhum ratu.

            Warga sekitar hingga saat ini juga tidak tau dengan makam tersebut, timbul dugaaan makam di bukit tersebut adalah Ratu Soraya karena alur sejarah yang memungkinkan perpindahan ke arah Matan dimasa itu.

  Ada dua nisan sepesial diatas bukit tersebut satu bertype Aceh, dan satu berbentuk batu serta beberapa yang lain diduga juga sudah mengalami kerusakan karena sekian ratus tahun didalam hutan tak terawat. 

            Pemakaman ini berada di atas bukit dengan ketinggian 6 meter dari permukaan jalan. Secara astronomis keletakkannya pada S 1 6 12.4 dan E 110 12 22.9. Pada bagian luar pemakaman diberi pagar pembatas dari kayu yang mengelilinginya. Semak dan ilalang menutupi permukaan tanah di luar pagar tersebut. Di sebelah barat daya kaki bukit tempat pemakaman ini terdapat Sungai Matan. Informasi dari Bapak M. Resin, apabila musim kemarau dan air di sungai tersebut mulai surut, tampak pecahan keramik tersebar di tepi sungai

            Untuk menguatkan dugaan bahwa ini makam Ratu Soraya adalah berdasarkan informasi jika  pada tahun 2016 di sambas juga ditemukan makam bertype aceh yang diduga  masih kerabat dengan Raden Sulaiman. Nisan ini benar benar mirip, dan uniknya dua nisan ini  jika dilihat dari coraknya hampir satu masa.Serta yang paling penting adalah nisan dari Raja tengah di sentubong sendiri juga bertype Aceh walau dengan corak yang berbeda.

             Maka ada dugaaan bahwa nisan Aceh yang mirip seperti  Sambas dan sukadana tersebut , di produksi sezaman. Kebetulan juga satu masa dengan Raden Sulaiman saat menjadi sultan sambas. Dugaanya Ia mengkhususkan nisan tersebut, karena memang orang terdekat dengannya, Yakni Ayah, Ibu dan Datok sebelah isterinya.

            Di duga Pada saat Raden Sulaiman menjadi raja sambas ia  menitipklan nisan ibunya itu pada Raden Bima yang pergi ke Matan dan menikah dengan  adik bungsu Sultan Zainuddin Raja Matan yakni Putri Indra kesuma, dan lahirlah seorang anak laki laki dengan nama raden Mulia atau Raden Milan. Kelak Raden Milan ini kemudian menjadi Raja Sambas ketiga.

             Tampaknya batu nisan yang dibawa Raden Bima untuk neneknya yakni Ratu Soraya tersebut sebelumnya sudah dipesan bersamaan  dengan nisan yang diperuntukkan bagi  kakeknya yang berada di sentubong dan moyang sebelah Ibunya di Sambas. Hal ini dapat diartikan, walau mereka berbeda tahun meninggalnya namun eranya sama, sehingga dalam waktu tertentu Raden sulaiman menggantgi nisannya secara serempak.

            Namun kembali lagi pada dugaan dan spekulasi yang ada hanyalah sebuah teori sementara yang tidak patut untuk di percayai sepenuhnya, akan tetapi  hal ini menjadi tapak penilitian lebih lanjut mengenai kebenaran dimanakah makam Ratu Surya Kesuma, apakah di Matan atau di Sukadana.

F.       PEMAHAMAN TENTANG GUNUNG LALANG YANG DI DATANGI OLEH ROMBONGAN BRUNEI PADA TAHUN 2005 DI SUKADANA

            Di sisi yang lain tentang Gunung Lalang yang pernah di datangi oleh romboangan dari Brunei pada tahun 2005 dan tahun 2006.  Hari ini kita berjumpa dengan manuskrip dan fakta fakta baru khususnya mengenai keberadaan Gunung Lalang, yang merupakan bagian dari gugusan bukit laut. Dimasa itu bukit laut adalah  makam Raja raja Tanjung Pura era Sukadana.

            Dalam beberapa mansukrip yang bersumber dari catatan Eropa seperti Pj Vert, Gorg Muller , Von De Wall serta Kitab Silsilah Raja Melayu dan Bugis Karya Raja Ali Haji. Beberapa di antaranya jelas tertulis bahwa Sultam Muhammad Syafiuddin di makamkan di atas bukit laut, dan secara spesifik Panembahan Baroh, yang bergelar Sultan Mustafa Izzudin yang merupakan kakek dari Giri Mustika juga di makamkan di tempat tersebut.

            Untuk Sementara bisa di simpulkan bahwa makam di atas Gunung Lalang itu  merupakan makam Raja Tanjung Pura di abad ke 16 dan 17. Adapun nisan saat ini sudah baru yang di ganti dengan semen, namun petunjuk yang tidak bisa terbantahkan adalah bata merah yang masih ada dan di duga pada masa itu  di jadikan tambak makam.

Jika tambaknya berbata merah maka nisannnya dimungkinkan juga batu bukan terbuat dari kayu, alasannya adalah apabila tambaknya saja mampu membuat sedemikian rupa dengan bata merah yang pada masa itu termasuk langka dan istimewa maka demikian pula dengan nisannya yang pasti setara dengan tambaknya.

Demikian pembahasan ini lebih kuranganya mohon maaf dan mohon UNTUK di adakan riset lebih lanjut terima kasih .


TIM PENYUSUN :

1.      ISYA FACHRUDI

2.      MIFTAHUL HUDA

3.      M. RIDLO


SUMBER : 

buku CL Blume , G Muller , De Wall. Pj Vert,

Raja Ali Haji ( Silsilah raja melayu Dan bugis )

Dan Riset lapangan yang kami lakukan dari tahun 2018 hingga tahun 2021

Share:

Kondisi Situs Komplek Makam Abad 19 di Matan yang Memprihatinkan

  


Komplek makam tua, dengan tipe nisan singapur/tumasik abad ke-19, tidak diketahui identitasnya. Makam ini berada di koordinat 1°05’59.6” S - 110°12’06.2” E. Saat ini, makam tersebut dialihfungsikan oleh pemilik tanah yang baru, menjadi kebun sawit dan kopi.

Kondisi nisan tua tersebut sangat memprihatinkan. Saat Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), bersama pegiat sejarah melakukan peninjauan pertama  ke lokasi ini, sunguh menyayat hati. Kami menyaksikan dan melihat tiang nisan ada yang patah, pecah bahkan terbenam ke dalam tanah.

Kondisi situs yang dekat dengan kandang sapi, bahkan sebelahnya sudah patah akibat sapi yang dilepas liar oleh warga

Komplek makam ini berada pada sebelah barat makam Sayyid Kubra dan Kolam Laut Ketinggalan. Berada di dataran tinggi. Terdapat sekitar 15 makam di situs ini. Terdiri dari 3 pasang nisan bulat  dan  sebanyak 2 pasang nisan batu berbetuk pipih. Satu pasang nisan terbuat dari kayu belian yang telah tua, dan 9 kuburan lainnya bernisan batu alam biasa.

Dari hasil pendataan dan identifikasi lapangan, dapat kami jelaskan sebagaimana sketsa makam yang kami buat, yaitu:

1)        Makam A = nisan batu andesit berbentuk bulat dan bermotif; panjang nisan lebih kurang 0,80 mater; nisan masih terlihat utuh di bawah pohon kopi; warna nisan alami;

2)        Makam B = nisan batu andesit berbentuk bulat dan bermotif; panjang nisan lebih kurang 0,80 mater; nisan  dibagian kaki patah dan bagian kepala masih terlihat utuh; warna nisan alami; berada di bawah pohon kopi;

3)        Makam C = nisan batu andesit berbentuk pipih bermotif; panjang nisan lebih kurang 0,80 mater; 1 nisan  patah 3, dan 1 masih utuh; kedua nisan posisi tumbang; makam ini berampingan dengan Makam B; warna nisan alami; berada di bawah pohon kopi;

4)        Makam D = nisan kayu belian; bentuk nisan persegi 4, bermotif; usia nisan tua, keropos/lapuk; berada di bawah pohon besar;

5)        Makam E = nisan batu andesit berbentuk bulat dan bermotif; saat ditemukan di nisan terbenam hingga rata permukaan tanah; panjang nisan sekitar 0,40 meter;

6)        Makam F = nisan batu andesit berbentuk pipih bermotif; panjang nisan lebih kurang 0,70 mater; nisan bagian kepala telah patah dan bagian kaki masih utuh; berada tak jauh dari jalan utama; makam berdampingan denan makam nisan batu alam (Makam G);

7)        Makam G = ialah makam-makam dengan menggunakan batu alam, batu desa setempat; nisan ada yang masih utuh, ada yang tinggal 1;

8)        Sekitar 100 meter ke arah timur komplek makam ini, yaitu situs Kolam Danau Raja.

Tim Ahli Cagar Budaya sedang melakukan pembenahan pada situs yang memprihatinkan

Tipe nisan semacam tersebut, sering disebut sebagai nisan Singapura/Tumasik (Melayu). Tren pembuatan nisan ini, mulai era 1700-an akhir hingga 1900-an. Jika dilihat secara seksama, ada satu tren nisan yang mirip dengan nisan Raja Riau (Gusti Bandar) di Sukadana, bentuk pipih. bentuk tersebut, diduga kuat buatan tahun 1700-an akhir.

Jika diamati dari nisan-nisan tersebut, dapat disimpulkan sementara, bahwa makam-makam tersebut lebih muda dari komplek makam Sayyid Kubra. Bisa jadi, makam ini menjelaskan  mengenai keberlanjutan dan transisi, perpindahan dari Kesultanan Matan ke Negeri Laya (Sandai). Atau transisi/perpindahan peradaban ke Simpang Matan.

Salah satu nisan abad 19 yang sepasanganya telah rusak akibat aktivitas sapi yang dilepas liar


Tidak jauh dari nisan yang patah-mematah tersebut, terlihat sapi liar bertambat tanpa tali hidung. Di Desa Matan Jaya, ada oknum warga yang memiliki kebiasaan memelihara sapi dilepasliarkan saja. Biasanya tanpa ada kandang dan perawatan yang memadai. Sapi-sapi liar ini sering jadi masalah dan keluhan bagi warga yang lain. Karena merusak pekarangan dan tanaman warga lain. Kerusakan pada nisan-nisan di lokasi pemakaman tua ini, diduga akibat ulah sapi liar yang kurang terurus.

Dugaan  akibat ulah sapi dimaksud, diperkuat dari jejak kaki sapi disekeliling nisan, membuat tanah jadi lundang (becek). Serta kotoran sapi yang berhamuran kesana kemari di sekitar nisan/kuburan. Saat datang pertama kali, salah satu Tim Ahli Cagar Budaya mendapat informasi dari warga,  bahwa nisan yang patah tersebut akibat ditabrak sapi.

Seharunya, kita memiliki sikap dan penghormatan yang tinggi kepada leluhur kita di makam tersebut. Kendatai kita tidak tahu-menahu siapa yang dimakamkan, menghormati yang orang yang telah meninggal wajib hukumnya. Sebab kita pun akan menyusul mati juga. Jika makam kita diperlakukan tidak layak oleh orang lain, tentu roh/arwah kita tidak akan terima juga.

Logikanya, jika sebidang tanah terdapat komplek pemakaman, maka wajib hukumnya untuk tidak digarap. Sebab dipastikan, bahwa komplek tersebut dulunya merupakan tanah yang diwakafkan, pasti untuk pemakaman khusus.

Disadari atau tidak, cerminan cara berpikir kita hari ini masih jauh dari bagaimana cara menghomati leluhur. Sementara untuk urusan duniawi, kita suka berlomba-lomba, bahkan memperebutkannya. Misalnya dimana tanah warisan si fulan bin si fulan. Dimana durian pusakan si fulan bin si fulan, rata-rata kita tahu dan hafal. Saat ditanya soal pemakaman para raja dan kesejarahnnya, kita sering menjawab tidak tahu. Atau bahkan menyandarkannya pada cerita-cerita yang berbau mistik, atau tafsiran mimpi seseorang yang dianggap tokoh. Sementara, cerita mistik dan pendapat dari orang yang dianggap berilmu tersebut, sama sekali tidak memiliki dasar atau data yang kuat.



Share:

Kolam Danau Raja Peninggalan Kesultanan Matan Tua

  


Kolam Danau Raja Kesultanan Matan

Kolam Eks Kesultanan Matan tua. Masyarakat setempat menyebutnya Kolam Laut Ketinggalan, atau Kolam Danau Raja. Letaknya di Desa Matan Jaya, Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Panjang kolam 80 meter dan lebar 68 meter, atau 5.440 meter persegi, dengan tinggi tanggul antara 3,50 - 4,50 meter. Dengan inled (pintu masuk air) selebar 5 - 7,5 meter. Lingkaran tanggul (piramid) bagian barat 21 meter, dengan tinggi kemeringan 10 meter. Lingkaran tanggul (piramid) bagian timur 11,5 meter, dengan tinggi kemeringan 7 meter. Menghadap ke utara sebagai pintu masuk air, yang mengalir dari Gunung Matan. Kemudian, di sebelah selatan terdapat outled (pintu keluar air) selebar 2 meter.

Kolam Laut Ketinggalan tersebut tidak jauh dengan temuan umpak, bakas penyangga tiang seri keraton. Jaraknya sekitar 70  meter saja. Jarak kolam ke makam Sayyid Qubra (Kubra) dan sultan-sultan Matan juga tidak begitu jauh, hanya berjarak 150 meter. Di samping kolam terdapat cungkup. Isi cungkup, semacam makam dengan nisan batu alam, dan batu berbentuk bulat dengan diameter lebih dari 0,30 meter, yang dihubungkan dengan keberadaan Kolam Laut Ketinggalan. Namun batu bulat yang disebut warga sebagai makam tersebut, sepertinya bukan nisan, melainkan semacam prasasti. Diduga batu bulat tersebut  sebagai penanda (prasasti) keberadaan Kolam Danau Raja atau Laut Ketinggalan.

Sayangnya, kondisi situs Kolam Laut Ketinggalan ini sangat memprihatinkan. Bagian dasar tanggul sudah ditanami warga dengan sawit. Situs ini beralih fungsi sebagai permukiman warga.  Sehingga sebagian dari struktur situs ini sudah tidak utuh lagi, terutama tanggul di bagian selatan.

Bagian utara kolam,  di atas inled terdapat kandang ayam pedaging. Disamping kandang ayam, tanggulnya dicangkul dibuat jalan untuk kendaraan membawa buah sawit. Sebelah selatan, di dalam kolamnya terdapat kakus (toilet),  rumah warga dan bangunan TK.



Kondisi tanggul sebelah selatan tersebut, lebih dari setengahnya telah rusak dan rata dengan jalan. Penyebabnya, karena alih fungsi untuk bangunan atau tempat tinggal. Tanggul yang tersisa 21,60 meter saja dari lebar 68 meter, yaitu dari outled ke arah barat atau ke sudut tanggul.

Berdasarkan informasi, bahwa lokasi Kolam Laut Ketinggalan saat ini, tanah/lokasinya telah dimiliki warga. Pemiliknya, yaitu warga yang saat ini berusaha dan bertempat tinggal di lokasi situs. Ada yang mendapatkan tanah ini membeli dari pemilik sebelumnya. Ada juga yang menempatinya, ketika mereka masuk ke Matan era 1970-an, kerja kayu dan menetap di Matan.

Sangat disayangkan, mengapa situs berharga seperti Kolam Danau Raja ini menjadi terlantar dan terancam rusak? Mungkin masyarakat belum memiliki pemahaman tentang arti pentingnya peninggalan bersejara, atau jejak sejarah dari para leluhurnya. Atau sebagian dari warga beranggapan, tidak penting mempertahankan peninggalan-peninggalan masa lalu, seperti Kolam Danau Raja dan sebagainya.

Bagaimana ceritanya situs Kolam Laut Ketinggalan, bisa diakui sepihak oleh orang yang menemukannya, lalu menjualnya? Sementara, di lokasi sekitarnya terdapat beberapa bukti penting, seperti makam dan umpak. Kemudian, setelah dijual lahan tersebut digarap. Maka dipastikan, kelak jejak sejarah dan bukti penting ini hanya tinggal cerita saja.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, bahwa Kolam Laut Ketinggalan berhubungan dengan cerita legenda tentang putri raja Matan. Legenda yang mengisahkan tentang seorang putri raja, yang diramalkan akan menemui ajalnya dimakan buaya.

Legendanya, sang Putri berkeinginan mandi di laut. Karena khawatir dengan ramalan tentang putrinya. Demi keselamatan buah hatinya, sang raja memerintahkan ke pegawainya untuk membuat kolam pemandian putrinya.  Sebagai mainan si putri di kolamnya, dibuatlah buaya mainan dari kayu. Namun naas, tangan tuan putri luka tergores gigi buaya, yang terbuat dari kayu belian. Sebab luka itu, membawa kematian sang putri.

Kolam yang dimaksud dalam cerita tersebut, di bangun pada zaman Giri Mustika, Sultan Matan abad ke-17. Kolom tersebut bagian dari sistem pengairan perladangan (sawah) pada masa itu.

Setting cerita yang mengambil latar sejarah era Giri Mustika, tentu membuka pemikiran kita, bahwa cerita ini sudah begitu tua hadir di tengah masyarakat. Walaupun, lagi-lagi, kita sulit mendapatkan data kapan persis cerita ini muncul dalam budaya masyarakat setempat.

Share:

Umpak Bekas Keraton Kesultanan Matan Tuad Abad 17

  

Umpak Bekas Keraton Kesultanan Matan Tuad Abad 17

Tidak jauh dari komplek makam Sayyid Qubra (Kubra) dan sultan-sultan Matan, terdapat batu berbentuk lesung. Lokasinya  di belakang rumah warga bernama Saparudin. Menurut masyarakat setempat,  batu tersebut merupakan lesung bekas penumbuk bedak putri sultan. Namun berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan benda tersebut berbeda dengan presepsi masyarakat. Hal ini didukung data  berupa temuan arkeologi  yang ada di sekitar lokasi. Bahwa benda tersebut bukanlah lesung, melainkan Umpak.

Umpak merupakan unsur bangunan, yang berfungsi sebagai penyangga tiang pada bangunan berkonstruksi kayu. Pada umumnya, umpak terbuat dari batu, bisa berjumlah lebih dari 1 buah dalam bangunan tertentu. Umpak yang ditemukan disini, ialah penyangga tiang seri utama dari keraton Matan tua. Hal ini dikuatkan dengan adanya fragmen keramik, bata merah, gerabah, tembaga dan benda kuno lainnya di sekitar lokasi.

Kondisi umpak yang ada di belakang rumah warga ini sangat memprihatinkan. Selain sudah retak, juga berada tepat di dekat pelecah (comberan) warga. Situasi bertambah buruk lagi, sebab di sekitar lokasi juga terdapat kotoran unggas. Menurut sang pemilik rumah (Saparudin), dulu saat dia pindah dari Kamboja (Pulau Maya) ke Matan tahun 1980-an, daerah yang dia tempati saat ini hutan. Kemudian dia bersihkan, dan di bangun rumah.

Saat membangun rumah, Saparudin kerap menemukan pecahan keramik, dan bata-bata merah. Bahkan fragmen bata merah dan keramik tersebut, hingga saat ini masih dapat ditemukan di sekitar lokasi. Tahun 2019 tim peneliti dari BPCB Kalimantan Timur, pernah datang ke lokasi umpak ini, dan mendokumentasikan beberapa temuan yang ada.



Kesejarahan

Upaya penelitian dan eksplorasi di sekitar lokasi Kesultanan Matan tua, dilakukan sejak tahun 1963 oleh Drs. H. Gusti Muhammad Mulia (Sultan Muhammad Jamaluddin II, Raja Simpang ke-7). Dilanjutkan pada tahun 2012 oleh Lembaga Simpang Mandiri. Kemudian 2018, Lembaga Simpang Mandiri bersama BPCB Kalimantan Timur melanjutkan riset tersebut. Riset terakhir pada 9 Februari 2019.

Karena dinamika politik dan beberapa kali peperangan, ibu kota Kesultanan Matan mengalami berpindahan. Dari Matan, Sekusur tercatat juga pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan. Kemudian berpindah ke Negeri Laya (Sandai), dan terakhir di Muara Kayong.

Diperkirakan, hampir seratus tahun Matan digunakan sebagai pusat pemerintahan. Karena ada tiga sultan yang dimakamkan dan meninggal di Matan.

Share:

Komplek Makam Kesultanan Matan tua & Sayyid Kubra Serta Sejarahnya

  


Komplek Makam Sultan Matan da­­­­n Sayyid Kubra

Komplek makam ini terletak dekat permukiman warga Desa Matan Jaya. Dulu, di sekitar tempat ini, merupakan pusat kota raja Kesultanan Matan tua. Didiami raja selama 4 generasi. Selanjutnya,  Kesultanan Matan berpindah ke Negeri Laya (Sandai) dan Muara Kayong.

Komplek makam Sayyid Qubra (Kubra) dan sultan-sultan Matan ini, terletak di dataran yang lebih tinggi. Didepannya terdapat pagar beton baru berwarna kuning. Sebelah utara berbatasan dengan jalan Matan, seberangnya terdapat Gunung Matan dan Sepuncak. Sebelah barat terdapat situs eks keraton, dan menuju ke arah sungai.  Di bagian selatan, di belakang komplek  ini,  jika ditelusuri masih terhubung dengan bukit kecil yang terdapat makam tua bertipe Aceh.

Di komplek makam saat ini terdapat 3 cungkup. Paling depan, cungkup makam dengan nisan tipe gada, berbahan batu andesit. Diduga kuat, ini makam Sultan Matan, bernama Pangeran Mangkurat (Sultan Aliuddin). Diskripsi makam ini, yaitu:

  • Berada dalam gundukan seluas 225 meter persegi dengan ketinggian sekitar 0,75 meter;
  • Berada dalam cungkup/bangunan ukuran 4 x 4 meter dan tinggi 3,00 meter;
  • Merupakan makam pertama ketika masuk dari jalan utama;
  • Nisan terbuat dari batu andesit bertipe gada, berukir berebentuk persegi delapan, jarak antar nisan 1,18 meter, di cat kuning, sebagian besar pangkal nisan diselimuti beton;
  • Tinggi nisan dari pangkal tanah, 0,71 meter, diameter pangkal 0,32 meter, diameter mahkota 0,32 - 0,40 meter dan diameter puncak 0,11 - 0,12 meter;
  • Berjirat dengan lebar 1,00 meter,  panjang 2,02 meter dan tinggi 0,19 meter.

Berjarak sekitar 7,50 meter dari cungkup pertama, yaitu cungkup kedua dibangun 2022,  terdapat jirat makam menggunakan bata merah. Kondisi susunan bata/jirat ini sudah rusak parah. Struktur jirat tersebut baru ditemukan pada Desember 2021, oleh pegiat sejarah Isya Fahrudi, Miftahul Huda dan Mahfud Ridhowi. Sebelum diekskavasi (dikupas permukaannya), warga setempat menyatakan bata tersebut bata jalan menuju makam.

Persepsi masyarakat setempat, bata tersebut bekas jalan menuju makam,  menumbuhkan rasa curiga dan penasaran Isya Fachrudi. Sebab itu, Isya Fachrudi dan rekan-rekannya melakukan ekskavasi (pengupasan). Ketika dilakukan pengupasan permukaan susunan bata tersebut, ditemukan susunan bata sebanyak 4 lapis. Hal ini tentu tidak lazim digunakan sebagai fungsi jalan.

Ukuran bata merah yang ditemukan dan teridentifikasi, yaitu:

  • Lebar 12,5 cm dan panjang 17 cm;
  • Lebar 14 cm dan panjang 26 cm;
  • Lebar 14 cm dan panjang 26 cm; dan
  • Lebar 14 cm dan panjang 14 cm;



Setelah beberapa hari diekskavasi, dapat dilihat dengan utuh bentuknya, yaitu menyerupai jirat makam yang sudah rusak parah. Jirat berbata merah tersebut, diduga kuat adalah makam Pangeran Ratu, yakni sultan (raja) Matan sebelum Pangeran Mangkurat. Ukuran jiratnya, panjang 3,20 meter, lebar 1,25 meter, tinggi  dibagian utara 0,14 meter dan tinggi dibagian selatan 0,15 meter.  Berada dalam gundukan seluas 225 meter persegi dengan k.etinggian sekitar 0,75 meter

Kemudian jarak 10,40 meter ke utara ada cungkup ketiga. Di cungkup ini terdapat nisan bertipe Aceh. Kondisinya rusak, terutama nisan bagian kepala. Makam ini diduga makam Sayyid Qubra. Adapun deskripsi makam Sayyid Qubra  yaitu:

  • Berada dalam gundukan 104 meter persegi;
  • Berjarak 10,40 meter dari situs B atau makam yang diduga makam Pangeran Ratu;
  • Nisan terbuat dari batu andesit bertipe Aceh berbentuk persegi empat, di cat kuning, dengan tinggi nisan yang masih utuh 0,46 meter;
  • Bagian kepal nisan telah patah, sedangkan bagian kakinya masih terlihat utuh;
  • Ukran lebar pangkal nisan 0,12 meter dan puncak 0,06 meter;
  • Berada dalam cungkup ukran 3,57 x 3,41 meter dengan tinggi sekitar 1,83 meter.

Tidak jauh dari komplek makam ini, konon menurut warga,  ditemukan perigi (sumur), berjarak kurang lebih 40 meter. Dulu airnya masih dapat digunakan. Namun sayangnya, saat ini lokasinya sudah banyak berubah dan beralih fungsi menjadi kebun.

Selain kondisi situs yang sebagian rusak, cara penanganan dan pemugaran terhadap situs belum mengacu pada standar pemugaran. Yaitu, standar yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Cara penanganan yang tidak standar ini, bisa dilihat dari pembangunan cungkup dan proses pengecoran yang sebagian/menutupi situs cagar budaya. Selain itu, dari sisi kepatutan, makam Sayyid Qubra dan sultan-sultan Matan ini seharusnya dikhususkan, tidak boleh bercampur dengan makam masyarakat biasa. Perlakuan-perlakuan khusus ini, sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Selain itu adalah cara kita hari ini untuk menghormati jasa para ulama dan pembesar terdahulu, yang telah berjasa merintis dan membangun negeri ini.

Menurut penuturan warga Matan, Usu Him, bahwa dulu komplek makam Sayyid Qubra ini hanya ada 3 makam saja. Tidak ada pemakaman warga di tempat yang dikeramatkan ini. Sebab ada kepercayaan, bahwa makam orang biasa tidak boleh bercampur dengan raja/sultan dan ulama, yang dianggap pahlawan. Seiring berjalannya waktu, tahun 1980-an, ada orang luar yang bekerja kayu di Matan meninggal, kemudian dimakamkan di komplek tersebut. Sejak saat itulah masyarakat lain mengikutinya. Hingga sekarang menjadi pemakaman umum warga Muslim setempat. 



Sejarah Singkat

Nisan dengan tipe Aceh dipercayai masyarakat sebagai makam Sayyid Qubra. Sedangkan dua makam di atasnya, baik yang bertipe gada maupun jirat berbata merah, pasti makam orang penting. Diduga kuat makam bertipe gada ialah makam Pangeran Ratu (Meruhum Ratu). Sedangkan struktur yang berjirat bata merah, diduga makam Pangeran Mangkurat (Sultan Aliuddin).

Geroge Muller, yang pernah datang ke Simpang dan bertemu dengan Gusti Mahmud (Penmbahan Anom Suryaningrat) tahun 1823. Dalam catatan Muller menyebutkan, bahwa Pangeran Mangkurat dimakamkan di Matan Kuno. Muller mendeskripsikan Matan pada saat itu, dengan sebutan Matan Kuno, dengan kondisi yang sudah bobrok dan sudah lama ditinggalkan.

Setelah Sultan Zainuddin wafat tahun 1732, dilanjutkan oleh Pangeran Ratu. Pangeran Ratu naik tahta tahun 1732, dan meninggal tahun 1736. Pada masa Sultan Zainuddin, Sayyid Qubra telah menjadi Qadhi (hakim agama tertinggi). Kemudian masa Sultan Zainuddin, Sayyid Qubra kedatangan tamu yang juga merupakan sahabatnya. Sahabat yang berasal dari Hadramaut, bernama Habib Husein Alkadrie. 

Kemudian, pada masa Sultan Aliuddin (Pangeran Mangkurat) naik tahta di Kesultanan Matan (1736), Habib Husein dan Sayyid Qubra masih menjadi pemuka agama di kesultanan. Sayyid Qubra menjadi Qadhi, dan Habib Husein Alkadrie selaku Mufti.

Sayyid Qubra adalah sosok ulama yang sangat hebat, gagah dan berani. Beliau sangat berwibawa dan sangat dihormati di negeri Matan.

Sayyid Qubra juga dikenal dengan nama Tuan Janggut Merah. Karena sosok beliau yang gagah, mempunyai janggut yang lebat berwarna merah. Sayyid Qubra mempunyai kebiasaan mewarnai janggutnya yang sudah memutih, dengan daun pacar (inai). Sehingga janggut beliau berwarna merah. Melihat hal tersebut, orang-orang ketika itu menjuluki beliau dengan nama Tuan Janggut Merah.

 


 

Share:

MAKAM KERAMAT GUNUNG LALANG, Makam Raja- raja Sukadana Kuno abad 16






Di atas Gunung Lalang saat ini, jauh sebelum pemakaman warga Tionghoa, ratusan tahun yang lalu telah ada makam penting yang dikeramatkan. Menurut George Muller (1822), terdapat dua makam keramat di atas bukit tersebut. Makam tersebut merupakan makam raja Tanjungpura era Sukadana tua. 

Makam yang dimaksud Muller, yaitu makam Panembahan Baroh, bergelar Sultan Musthafa Izzudin, dari tahun 1562 – 1590 M. Kemudian makam Giri Mustika, bergelar Sultan Muhammad Syafiuddien. Beliau memerintah dari tahun 1627 – 1677 M. 

Sayangnya, kedua makam tersebut tidak terawat dengan baik. Bahkan nisannya sudah diganti dengan semen. Bersyukur masih ditemukan petunjuk yang sangat berarti, yaitu terdapat bata merah dengan bongkahan-bongkahan besar. Pada masa lampau, bata tersebut digunakan sebagai jirat makam. 

Struktur jirat pada kedua makam masih tampak jelas. Bahwa ada tradisi memakamkan pada tempat tinggi di era itu, khususnya pada raja-raja Tanjungpura tua. merupakan kebiasaan untuk menandakan tingginya derajat seorang raja. Hal ini bisa dilihat juga pada komplek makam Tok Mangku di bukit Peramas, makam Ayer Mala di Bukit Tambak Rawang. Serta komplek makam Sekusor dan Matan.

Dalam catatan Muller yang juga dijadikan sandaran beberapa buku sejarah kerajaan di Kalimantan Barat, disebutkan bahwa nama Gunung Lalang merupakan bagian dari gugusan ‘Bukit Laut’. Gugusan bukit ini membentang dari mulai Pelintu, Tambak Rawang hingga Teluk Sukadana. Menariknya, nama Gunung Lalang, sudah di tulis oleh Georg Muller pada masa itu.

Soal makam di Gunung Lalang, sampai saat ini masih terjadi silang pendapat. Sebagian orang percaya bahwa itu makam Ratu Soraya, anak dari Panembahan Sorgi, yang menikah dengan Sultan Tengah dari Serawak. Ada juga yang berpendapat, makam tersebut makam Pangeran Sidang Panape. Kedua pendapat ini masih belum teruji kebenarannya. Sebab tidak memiliki landasan sejarah yang kuat.  

Panembahan Barokh disebut Muller di makamkan di Gunung Lalang. Beliua merupakan raja Tanjungpura era Sukadana tua, yang pertama kali membuka kota raja Matan. Ketika masa cucunya, Kesultanan Matan benar-benar berdiri. 

Puing-puing reruntuhan Kota Matan yang dibangun oleh Penembahan Barokh, masih dapat kita lihat hingga saat ini. Sayang, kondisinya kurang terawat dan memprihatinkan. Diantara peninggalan tersebut, yaitu Kolam Laut Ketinggalan, Umpak (bekas tiang seri keratin), bekas pecahan-pecahan keramik. Serta terdapat batu bata merah di sekitar lokasi bekas keraton Matan kuno. Letaknya tidak jauh dari komplek makam raja Matan, yaitu Gusti Aliuddin (Sultan Mangkurat) dan Sayyid Kubra. Ada juga makam bertipe nisan Aceh, dan makam tua bertipe Phallus atau batu kuno.

Pendirian kerajaan Matan oleh panembahan Barokh, merupakan strategi penyelamatan dan pengamanan kedudukan Kerajaan Tanjung pura di Sukadana. Jika suatu ketika Sukadana lemah pertahanannya akibat peperangan, perebutan hegonomi atau persaingan ekonomi perdagangan, maka Matan sudah siap. Siap ditempati kapanpun. Ini terbukti ketika masa cicit dari Panembahan Barokh, Kota Matan benar-benar berdaulat sebagai kerajaan, dengan bentuk Kesultanan Islam secara penuh. 

Makam keramat Gunung Lalang berikutnya, yaitu Giri Mustika atau bergelar Sultan Muhammad Syafiuddien. Beliau putra Panembahan Sorgi (Giri Kesuma) bergelar Sultan Muhammad Tajudin. Kakeknya bernama Sultan Musthafa Izzudin bin Sultan Umar Aqamuddin, bin Sultan Abu bakar Jalaluddin, bin Sultan Hasan Kawiuddin bin Sultan Ali Aliuddin bin Baparung, bin Prabu Jaya (pendiri kerjaan Tanjungpura pertama) dari Majapahit.

Dari Giri Mustika, melahirkan raja-raja di seluruh Kalimantan Barat. Putranya, yaitu Gusti Lekar mendirkan Kerajaan Meliau dan Tayan. Adiknya Ratu Soraya Kesuma, menikah dengan Raja Tengah melahirkan Kesultanan Sambas. Kemudian cucunya, yaitu Sultan Zainuddin, menurunkan Kerajaan Mempawah dan Pontianak.

Tertanda

TIM AHLI CAGAR BUDAYA

Kabupaten Kayong Utara.


Share:

SDN 01 SUKADANA, Bangunan Sekolah Zaman Pemerintah Hindia Belanda





Menurut riwayat/cerita orang-orang tua, SDN ini di bangun oleh Belanda tahun 1928. Sejak di bangun, bangunan ini memang berfungsi untuk sekolah hingga sekarang. Ini bagian dari kebijakan politik balas budi (politik etis) Belanda ke bangsa Indonesia. SDN 01 ini telah banyak melahirkan orang-rang penting dan ternama, termasuk Oesman Sapta Odang (OSO) dan Drs. Chornelis, S.H., M.H., matan Gubernur Kalbar.

Bahan utama bangunan ini kayu belian dan kayu kelas 1. Mulai dari tongkat, tiang, gelegar dan lantai belian. Sedangkan bangunan bagian atas seperti kasau, reng dan lainnya kayu kelas 1. Dulu atapnya sirap (belian), sekarang atasnya seng metal.

Lebar bangunan utama termasuk teras keliling, yaitu 33,35 meter dan panjang 9,30 meter. Ruang kelas terdiri dari 4 ruang, dengan ukuran bervariasi. Untuk memudahkan mengidentifikasi, setiap ruang kami beri kode ruang A, B, C, D dan E. Lingkaran teras keliling (ruang A) lebar dari sisi tepi ke bangunan utama 1,52 meter keliling. Ruang B ukuran 9,20 m x 6,35 m, ruang C ukuran 7,78 m x 6,35 m, ruang D ukuran 7,78 m x 6,35 m dan ukuran ruang E  7,78 m x 6,35 m. Antara ruang B dan C ada losan atau bisa dibuka. Tampaknya ini sengaja di desain, untuk ruang pertemuan. 

Tinggi bangunan 3,31 meter. Sedangkan tinggi tongkat sekarang sisa 1,10 meter. Tinggi tongkat dulu sekitar 1,60 – 2 meter. Menjadi rendah, karena ada penimbunan halaman. Dulu di bawah/kolong sekolah bisa memakir sepeda dan sepeda motor, sekarang tidak bisa lagi. Sisi bangunan lain yang berubah, yaitu plafon. Dulu desain Plafonnya langsung nempel di kasau. Desain ini dirancang agar tidak panas, apa lagi sekeliling ruangan tersedia Ventilasi yang tingginya lebih dari 1 meter, sehingga angin bebas keluar masuk, tak perlu kipas angin. Sekarang  plafonnya di desain datar. SDN ini di apit 2 jalan utama, jalan Kota Karang dan jalan Kampung Laut. Jarak dari jalan Kota Karang 11,40 meter. Jarak dari jalan Kampung Laut 10,50 meter.


Share:

Cari Blog Ini

  • ()
  • ()
Tampilkan selengkapnya
Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

Blogger templates